Publikasi
Default Study
Ringkasan Eksekutif
RINGKASAN EKSEKUTIF
Pada tahun 2025, kinerja instrumen surat utang dan perusahaan penerbit secara umum masih relatif stabil. Tingkat gagal bayar perusahaan tetap terjaga rendah dan menunjukkan perbaikan dibandingkan dengan tahun 2024. Sepanjang tahun 2025, hanya terdapat 1 (satu) perusahaan dari sektor konstruksi yang mengalami gagal bayar, yaitu PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA). Jumlah perusahaan yang mengalami gagal bayar tersebut menurun dari tahun sebelumnya yang berjumlah 3 (tiga) perusahaan. Namun, dari sisi nilai instrumen surat utang, terjadi kenaikan nilai instrumen yang mengalami gagal bayar dengan total nilai instrumen sebesar Rp7,54 triliun. Meskipun demikian, dampaknya terhadap tingkat gagal bayar agregat relatif terbatas seiring dengan tingginya nilai penerbitan surat utang korporasi baru pada tahun 2025. Kejadian gagal bayar pada instrumen WIKA juga terjadi pada peringkat awal yang relatif rendah, yaitu pada peringkat awal A- (single-A minus) (tiga notch di atas batas investment grade) dengan pemantauan tahun sebelumnya berada pada peringkat BB- (non-investment grade).
Tingkat gagal bayar berdasarkan perusahaan penerbit yang diperingkat oleh PEFINDO dan peringkatnya dipublikasikan secara kumulatif sejak 2007 hingga 2025 turun menjadi 7,73%, sedangkan tingkat gagal bayar instrumen surat utang untuk periode yang sama masih terjaga di tingkat 1,59%. Dari perspektif sektoral, tingkat gagal bayar instrumen surat utang dan perusahaan penerbit yang terjadi pada sektor non-financial institution (Non-FIN) masing-masing sebesar 3,75

