Pada April 2026, pasar saham Indonesia menghadapi tekanan signifikan akibat meningkatnya sentimen risk-off global, penguatan dolar AS, masih tingginya suku bunga global, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia. Di sisi domestik, pelemahan nilai tukar rupiah dan berlanjutnya arus keluar dana asing (foreign capital outflow) turut menekan pasar, sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam hingga 19,55% year-to-date (YTD). Tekanan pasar juga diperburuk oleh kekhawatiran terhadap penurunan bobot saham Indonesia dalam indeks global, yang meningkatkan risiko tambahan arus keluar modal asing. Kondisi tersebut berdampak luas pada berbagai sektor, termasuk sektor perbankan yang selama ini menjadi penopang utama pasar saham Indonesia. Saham-saham bank berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI mengalami koreksi signifikan akibat aksi jual investor asing, kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan kredit, serta meningkatnya risiko tekanan likuiditas. Sejalan dengan itu, Indeks IDX-PEFINDO Prime Bank (PRIMBANK10) turut melemah sebesar 19,82% YTD. Tekanan pasar juga memengaruhi Indeks PEFINDO i-Grade yang terkoreksi 25,23% YTD hingga akhir April 2026.

