Hingga akhir Februari 2026, pasar saham Indonesia menghadapi tekanan di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, dinamika suku bunga internasional, serta arus modal asing yang cenderung fluktuatif. Kondisi ini tercermin pada kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencatatkan koreksi sekitar 4,76% secara year-to-date (YTD). Volatilitas pasar juga dipengaruhi oleh meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko serta penyesuaian portofolio pada awal tahun. Sepanjang Februari, perhatian pasar turut tertuju pada langkah reformasi struktural yang diinisiasi oleh Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan sebagai respons terhadap evaluasi MSCI Inc., termasuk rencana peningkatan ambang batas free float menjadi 15% serta penguatan kewajiban keterbukaan informasi bagi pemegang saham signifikan.

