Hingga akhir Juni 2026, pasar saham Indonesia masih berada dalam tekanan berat yang berlanjut sejak awal tahun. IHSG terkoreksi 34,74% secara year-to-date (YTD), menjadi salah satu indeks terlemah di dunia, akibat ketidakpastian global, pelemahan rupiah yang sempat mencatatkan rekor terendah, arus keluar dana asing yang terus berlanjut, serta bayang-bayang evaluasi MSCI yang masih membuka peluang penurunan status Indonesia menjadi pasar frontier. Bank Indonesia merespons dengan kembali menaikkan suku bunga acuan secara bertahap sebanyak dua kali, masing-masing sebesar 25 basis poin (bps), guna menjaga stabilitas rupiah, yang turut menekan sentimen pasar meski fundamental ekonomi domestik relatif masih terjaga. Tekanan ini menjalar luas ke seluruh indeks di Bursa Efek Indonesia, di mana seluruh indeks yang tercatat berada dalam zona koreksi tanpa terkecuali, baik indeks berbasis kapitalisasi pasar yang besar, likuiditas tinggi, syariah, maupun tematik.

