Pada Maret 2026, pasar saham Indonesia yang tercermin melalui Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada dalam fase koreksi yang cukup dalam dan volatil, dengan penurunan mencapai sekitar 18,49% secara year-to-date (YTD). Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sentimen global—seperti ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama, penguatan dolar AS, dan meningkatnya tensi geopolitik—serta faktor domestik berupa arus keluar dana asing dan meningkatnya kehati-hatian investor. Koreksi terjadi secara luas di berbagai sektor, termasuk sektor perbankan yang selama ini menjadi penopang utama pasar. Sejalan dengan kondisi tersebut, indeks sektoral dan tematik turut mengalami tekanan. Indeks IDX-PEFINDO Prime Bank (PRIMBANK10) mencatat penurunan sebesar 12,75% YTD, mencerminkan tekanan pada saham-saham perbankan besar meskipun secara fundamental masih solid. Sementara itu, Indeks PEFINDO i-Grade mengalami koreksi lebih dalam sebesar 19,24% YTD, menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak hanya terjadi pada saham berisiko tinggi, tetapi juga pada saham dengan kualitas kredit dan fundamental yang kuat. Secara keseluruhan, kondisi ini mengindikasikan bahwa pergerakan pasar pada awal 2026 lebih didominasi oleh faktor sentimen dan likuiditas jangka pendek dibandingkan dengan faktor fundamental. Pasar masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan risk-off, sementara investor cenderung bersikap defensif di tengah ketidakpastian global dan domestik yang masih tinggi.

