Pasar saham Indonesia hingga akhir Mei 2026 masih berada dalam tekanan yang signifikan akibat kombinasi faktor global dan domestik. Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kenaikan yield obligasi Amerika Serikat, dan penguatan dolar AS mendorong investor global mengurangi eksposur pada aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia. Di dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah, arus keluar dana asing, serta ketidakpastian terkait evaluasi pasar modal Indonesia oleh MSCI semakin memperburuk sentimen pasar. Akibatnya, IHSG terkoreksi sebesar 29,14% year-to-date (YTD) dan menjadi salah satu indeks dengan kinerja terlemah di kawasan Asia. Tekanan pasar terjadi secara luas dan berdampak pada hampir seluruh sektor di Bursa Efek Indonesia, termasuk keuangan, properti, infrastruktur, industri, teknologi, transportasi, dan barang konsumsi. Meskipun sektor energi dan komoditas masih memperoleh dukungan dari harga komoditas yang relatif tinggi, sentimen pasar yang negatif tetap membatasi kinerjanya.

